oleh

Da’i Parmusi Harus Jadi Aktivis Masjid di Lingkungannya.  

JAKARTA |  Saat bicara sebagai Keynot Speaker dalam Pelatikan Pengurus Daerah Parmusi Kota Depok yang baru Masa Bhakti 2021-2025, Sabtu (6/11/2020) pagi, Ketua Umum PP Parmusi, Usamah Hisyam mengaku sangat senang, dengan semangat dan militansi kader Parmusi Kota Depok. Dikatakannya, lima belas tahun yang lalu, Parmusi Kota Depok punya kepengurusan yang solid, tapi dalam perjalanan waktu mulai meredup.

“Dengan kepengurusan Parmusi Depok yang baru ini., mudah-mudahan  ghirah dakwah di Kota Depok sebagai kota religius kembali bersinar. Khususnya dai’ Parmusi dalam gerakan dakwahnya. Semoga Allah memudahkan jalannya,” kata Usamah Hisyam.

Kota Depok merupakan kota penyangga yang sangat strategis, dengan jumlah penduduknya  yang besar. Kita ketahui, banyak warga Depok yang bekerja di kota Jakarta. Karena itu, kita harapkan warga Depok tidak terjebak oleh kehidupan duniawi semata. “Dengan kehadiran Parmusi Depok, orientasi akhirat juga harus dikembangkan melalui program-program dakwahnya,” tandas Usamah.

Secara garis besar, lanjut Usamah, ada langkah yang harus dibangun dalam mengembangkan dakwah di kota Depok. Diantaranya, membangun sinergi dengan pemerintah setempat dan masyarakat. Sinergi ini diwujudkan dengan mengajak mereka untuk bekerjasama tanpa ikatan apapun.

“Terkait kerjasama dengan infrastruktur politik, hendaknya tidak terilkat apapun, melainkan dibingkai dengan prinsip connecting muslim. Sinergi ini untuk memudahkan dan mewujudkan cita-cita  perjuangan kita,” pesan Usamah.

Menurut Usamah, ada kategori da’i Parmusi, yakni: Da’i Pembina, Da’i Pengelola, dan Da’i Pelaksana.  Adapun Da’i Pembina merupakan mubaligh senior di setiap tingkatan punya peran untuk mengarahkan konten dakwah sebagaimana diatur dalam Pedoman Dakwah Parmusi.

Sedangkan Da’i Pengelola tugasnya mengelola manajemen dakwah yang profesional. Manajemen dakwah inilah yang menentukan hidup matinya gerakan dakwah. Tanpa manajemen dakwah,  program dakwah tak akan berjalan secara masif.

Adapun Da’i Pelaksana adalah da’i yang siap digerakan duntuk berakwah. Perannya sangat penting sebagai ujung tombak yang akan menggerakkan masyarakat. Bisa diawali dengan melaksanakan daurah melalui virtual secara nasional, mulai dari Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan wilayah lainnya.

“Kepengurusan Parmusi di  setiap daerah, efektif atau tidaknya, bisa dilihat dari hasil mencetak kader da’inya.  Insya Allah pada 2023 nanti, akan kembali digelar Jambore Nasional Desa Madani yang melibatkan da’i-da’i Parmusi  dimasing-masing wilayahnya,” ungkap Usamah.

Dikatakan Usamah, Jawa Barat merupakan gudangnya da’i. Namun, ia berharap, para da’i Parmusi itu bukanlah da’i cabutan (dai rental). Usamah menyebutnya sebagai “da’i joki”. “Saya mengharapkan, dai  yang dilahirkan adalah da’i yang mengnal Parmusi, sehingga bisa menggerakkan Desa Madani di masing-masing daerahnya.”

Usamah mengakui, Parmusi belum menjadi organisasi yang kuat. Karena itu harus membangun sinergi dengan berbagai pihak, untuk mewujudkan Kota Depok sebagai kota yang aman, damai dan tentram.

Lebih jauh Usamah berharap, dakwah yang dilakukan da’i Parmusi seyogianya diawali dari masjid. Oleh sebab itu, .da’i Parmusi seharusnya  orang yang juga aktivis masjid di lingkungannya. Misalnya dengan menjadi DKM. “Jangan jadi pengurus Parmusi, tapi tak jelas tempat shalatnya.  Jika menjadi aktivis dakwah ya harus jelas masjidnya”.

Terpenting, pesan Ketua Umum Parmusi, dalam membangun sinergitas, hendaknya berpedoman dengan peraturan yang berlaku, jangan menabrak aturan yang ada. Jika tanpa formula dan menabrak aturan, hendaknya kita jangan teribat, meski tujuannya baik. “Karena itu, gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar harus dilakukan secara optimal, tanpa harus menabrak perundang-undangan yang ada,” tegas Usamah Hisyam. (des)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed