oleh

Hari Santri, Penghormatan kepada yang Dihormati

-Opini-39 views

Oleh: Drs. H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Di antara akhlaknya para ulama salaf radhiyallahu ‘anhum adalah sangat menghormati orang yang pernah mengajari mereka satu surat atau satu ayat dari Al-Quran, sewaktu mereka masih kecil.

Mereka selalu bertatakrama baik kepada orang yang mengajari mereka satu surat, satu ayat, ataupun satu bab dari ilmu, sampai mereka tidak mampu lewat mendahuluinya di jalan dengan berkendaraan.

Mereka juga tidak berani menikahi istri yang telah tertalak dari guru ngajinya sewaktu kecil, walaupun sekarang mereka telah menjadi ulama besar.

Mereka juga sering memberikan berbagai hadiah seperti pakaian kepada guru ngajinya sewaktu kecil dan juga kepada keluarga gurunya sebagai penghormatan kepadanya.

Mereka juga tidak pelit kepada guru ilmu fiqih yang juga mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka.

Pemberian harta dunia yang telah mereka berikan kepada guru ngaji anak-anaknya juga tidak mereka anggap banyak.

Dikisahkan dari Syekh Abi Zaid Al-Qoirwani pemilik kitab Ar-Risalah rahimahullah bahwa beliau memberi 100 dinar kepada seorang guru ngaji yang mengajari anaknya satu Hizb Al-Quran.

Guru tersebut berkata, “Ya Tuanku, saya tidak melakukan apa-apa hingga berhak mendapat semua ini.”

Setelah itu, Syekh Abi Zaid malah mengganti guru ngaji anaknya kepada guru lainnya. Syekh Abi Zaid berkata, “Dia (guru ngaji anaknya yang pertama) menganggap remeh Al-Quran.”

Saya (Syeh Abdul Wahhab As-Sya’roni) juga telah mengamalkan akhlak ini, Alhamdulillah, kepada Syekh Hasan Al-Halbi rahimahullah, saya memberikan pakaian kepadanya juga anak-anaknya sampai meninggal dunia. Dan saya tidak merasa telah memenuhi kewajiban saya atas hak beliau rahimahullah.

Saya dulu pernah berjalan pada suatu hari bersama dengan Syekh Syamsuddin Ad-Dimyati rahimahullah pada tahun 718 H, lalu Syekh Syamsuddin melihat ada orang buta yang sedang dituntun oleh putrinya.

Kemudian Syekh Syamsuddin turun dari kendaraannya, mencium tangan orang buta itu dan berjalan bersamanya lama sekali.

Setelah kembali, saya tanyakan kepadanya, beliau menjawab, “Dia adalah seseorang yang telah megajariku sedikit dari Al-Quran sewaktu aku masih kecil, aku tidak mampu lewat mendahuluinya sedangkan aku berkendaraan.”

Padahal Syekh Syamsuddin ini seorang ulama besar, dikenal keilmuan dan kesalehannya oleh para raja, apalagi orang-orang di bawah raja.

Saya belum pernah melihat seorang pun dari kawan sejawatnya, yang diberi kemuliaan seperti beliau.

Saya pernah melihat sendiri suatu hari beliau lewat di antara dua gedung, banyak orang berdesakan untuk mencium tangan beliau. Sedangkan orang-orang yang tidak sampai kepadanya, Syekh menggelar surbannya dan melemparkan kepada mereka hingga mereka bisa memegangnya dan mencium serban itu, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Kairo Mesir ketika kiswah Ka’bah melewati mereka.

Semoga Allah Ta’ala meridhai orang-orang yang bertatakrama baik kepada guru ngaji mereka sewaktu kecil. Ketahuilah hal itu dan ikutilah mereka.

Jangan anggap remeh guru kita walaupun sekarang derajat kita lebih tinggi dibandingkan mereka.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Referensi:

Kitab Tanbihul Mughtarin karya Sayyidi Abdul Wahab Asy-Sya’rani, Penerbit: Maktabah Al-Madinah Al-Munawwaroh.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed