oleh

Kisah Dai-Dai Parmusi Mengalirkan Air di Belantara Hutan Paipopa

Palu, ParmusiNews – “Sepenuh jiwa, raga, dan harta membentengi akidah umat. Berbenteng di hati umat”. Demikian penggalan lirik Mars Dai Parmusi yang bergema di setiap kegiatan Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia).

Namun bagi Dai Parmusi, itu bukan hanya sekadar lirik yang dilantunkan di kegiatan-kegiatan formal. Lebih dari itu, Mars Dai Parmusi juga  menjadi motivasi sekaligus komitmen untuk menjalankan Dakwah Ilallah di tengah umat.

Seperti yang dicontohkan para Dai Parmusi Kota Palu. Demi mencukupi kebutuhan air bagi santri-santri pondok pesantren Tahfizhul Quran, para Dai Parmusi Kota Palu menyambung 1.400 batang pipa dengan jarak lebih dari 5 kilometer.

Jarak yang jauh dan upaya yang banyak mengeluarkan peluh. Dan kini, para santri Pondok Pesantren Kampung Berkah Pasigala Bukit Paipopa Desa Pombewe Paneki, Kab. Sigi tak lagi takut kehabisan air bersih.

“Alhamdulillah. Semua ini tak lepas dari pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Kami pun tak bekerja sendiri. Ada Tim Bikers Subuhan Palu dan Komunitas Dai BMQ Sulteng yang turut membantu,” ujar Ustadz Afdhal Zainal kepada Muslim Obsession, Jumat (16/10/2020).

Sejak pipa terakhir selesai dipasang pada 11 Oktober lalu, kegiatan sehari-hari di pondok itu semakin berjalan lancar. Para santri makin ceria karena mereka bisa mandi, wudhu, menyuci, memasak, dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan mudah.

Bahkan di hari pertama baik air terisi penuh, keceriaan para santri tampak betul. Mereka mandi dengan riang gembira, merasakan kesenangan yang luar biasa karena saat ini air telah melimpah dan mengalir cukup deras ke pondok pesantren.

Memasang pipa-pipa air.

Mengalir dari Puncak Gunung

Kisah sukses pengadaan pipa air ini bermula dari ide Ustadz Afdhal yang terharu melihat kondisi para santri. Bertahun-tahun sejak pondok itu berdiri, para santri selalu kekurangan pasokan air bersih.

“Ketika saya dan Tim Dai Parmusi berkunjung, yang pertama kami tanyakan adalah apa kebutuhan paling pokok di pesantren ini? Mereka menjawab bahwa kebutuhan paling mendesak adalah air,” kenang Ustadz Afdhal.

Pihak pesantren menyampaikan, persediaan air mereka selalu saja tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan para santri seringkali turun ke kampung dan berjalan hampir 1 kilometer hanya untuk mandi.

Sebenarnya, upaya untuk memasok air sudah dilakukan pihak pesantren pada tahun lalu. Hanya saja pengadaan pipa air terhambat karena keterbatasan dana. Saat itu terpasang 500 batang pipa dari total 1.400 pipa yang dibutuhkan.

Kepada Tim Dai Parmusi, pihak pesantren pun menyampaikan agar ada orang-orang baik yang terketuk hatinya untuk bisa melanjutkan pengadaan dan pemasangan pipa air dari puncak gunung ke pesantren.

“Melihat kondisi tersebut, saya berinisiatif untuk melakukan gerakan perubahan dengan menggerakan umat agar bisa membantu pengadaan pipa air. Saya mengajak Tim Dai Parmusi Kota Palu, Tim Bikers Subuhan Palu dan Komunitas Dai BMQ Sulteng untuk menggalang dana melalui Tabungan Titipan Akhirat. Dari sini alhamdulillah terkumpul dana untuk membeli 900 batang pipa air sekaligus untuk biaya pemasangannya,” ungkap Ustadz Afdhal.

Saat pengadaan dan pemasangan pipa air, Ustadz Afdhal dibantu beberapa Dai Parmusi lainnya, di antaranya Ustadz Samsuddin, Ustadz Arief Zakman, Ustdzah Asnidar, dan Ustadz Muhammad Nur.

“Alhamdulillah atas Izin Allah Ta’ala, akhirnya air pun mngalir dalam kurung waktu sebulan sejak awal bulan September sampai 11 Oktober ini,” kata Ustadz Afdhal.

Cerita Duka, Cerita Suka

Pasti ada cerita duka dan cerita suka. Bukankah dalam proses harus berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian? Nah, Tim Dai Parmusi punya cerita itu.

“Sebanyak 900 batang pipa kami angkut hanya menggunakan sepeda motor, sebab mobil tak bisa naik ke atas dikarekan jalanan yang hanya bisa dilalui motor. Di kiri-kanan jalan ada tebing yang curam, sehingga kami harus pelan-pelan mengangkut batang-batang pipa yang panjang itu,” cerita Ustadz Afdhal.

Karena banyak, lanjutnya, pipa-pipa tersebut diangkut secara bertahap. Siang dan malam, di tengah panas terik matahari bahkan ketika hujan turun. Tak jarang para Dai Parmusi terpeleset hingga tangan dan kaki berdarah. Belum lagi kulit yang digigit serangga, hingga rimbunan tanaman hutan belantara yang harus mereka pangkas dengan alat seadanya.

Perjalanan menggunakan motor sering juga terkendala karena jalanan yang licin akibat hujan. Untuk membawa pipa-pipa itu tim dibantu warga setempat mengangkutnya dengan berjalan kaki secara hati-hati meniti jalanan yang basah.

Pun, dalam proses pemasangan pipa-pipa. Kendala paling sering ditemui adalah medan pegunungan yang sulit ditaklukan. Jalanan licin dengan kemiringan tak biasa, berkelok, naik dan turun, dengan batu-batu tajam.

Kini, semua itu telah dilalui. Cerita duka berganti suka. Air dari puncak gunung telah mengalir baik, mengisi bak-bak penampungan di pesantren.

“Dan hati kami makin senang setiap melihat wajah anak-anak santri yang gembira. Semoga kondisi di sini terus membaik, dan lelah kami menjadi lillah,” harap Ustadz Afdhal. (Fath)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *